Kita sering bicara soal cloud, AI, transaksi digital, dan internet super cepat. Tapi jarang ada yang membahas satu hal penting di balik semua itu: listrik.
Data center, gedung tempat ribuan server bekerja tanpa henti yang ternyata mengonsumsi listrik dalam jumlah yang tidak kecil. Bahkan, dalam beberapa kasus, skalanya bisa mendekati konsumsi satu kota.
Lalu, seberapa besar sebenarnya?
Konsumsi listrik Data Center di Indonesia
Di Indonesia, PT DCI Indonesia Tbk memiliki kapasitas operasional sekitar 84 MW. Artinya, dalam satu waktu fasilitas ini bisa menarik daya listrik sebesar 84 megawatt secara simultan.
Sebagai perbandingan , beban puncak Yogyakarta berada di kisaran 600โ650 MW.
Dengan kata lain Satu kampus data center besar di Indonesia setara sekitar 13โ14% dari beban puncak Kota Yogyakarta.
Itu bukan angka kecil untuk satu fasilitas tunggal yang berdiri di satu lokasi.
Di Luar Negeri Lebih Besar Lagi
Di Amerika Serikat, operator seperti Switch membangun kampus raksasa bernama The Citadel Campus di Nevada. Fasilitas ini memiliki kapasitas desain hingga 650 megawatt (MW).
Jika kapasitas sebesar itu berjalan penuh sepanjang tahun, konsumsi listriknya bisa mencapai sekitar 5.694 GWh per tahun.
Angka ini jauh melampaui skala data center di Indonesia. Sebagai perbandingan, konsumsi tersebut bisa setara atau bahkan sedikit lebih tinggi dari beban puncak Kota Yogyakarta atau beberapa kota di Indonesia.
Artinya, di level global, beberapa kampus data center memang sudah benar-benar berada di skala โkotaโ bukan lagi sekadar fasilitas teknologi.
Kenapa Bisa Sebesar Itu?
Jawabannya sederhana: data center tidak pernah mati.
Server bekerja 24 jam sehari. Sistem pendingin selalu aktif. Infrastruktur cadangan selalu siaga agar layanan tidak pernah berhenti.
Berbeda dengan rumah atau kantor yang listriknya turun saat malam, data center justru stabil dan konstan.
Apalagi sekarang, dengan tren AI, kebutuhan listrik makin besar karena server yang dipakai jauh lebih bertenaga.
Tantangan ke Depan
Pertumbuhan data center berarti pertumbuhan kebutuhan listrik. Di Indonesia, pasokan ini sebagian besar berasal dari PLN.
Artinya, perkembangan ekonomi digital tidak bisa dipisahkan dari kesiapan sistem kelistrikan nasional.
Jika satu fasilitas saja bisa mendekati atau bahkan lebih besar dari konsumsi kota kota besar di Indonesia, bayangkan ketika jumlahnya bertambah dalam beberapa tahun ke depan.
Jadi, Seberapa Besar?
Jawaban singkatnya: besar sekali.
Satu data center besar bisa setara listrik puluhan ribu rumah. Di beberapa kota, skalanya bisa mendekati konsumsi separuh kota atau bahkan lebih besar dari konsumsi suatu kota.
Di era digital, gedung-gedung server ini bukan lagi sekadar infrastruktur tersembunyi. Mereka sudah menjadi โkota kecilโ dari sisi konsumsi energi.
aren
Share post:
Kita sering bicara soal cloud, AI, transaksi digital, dan internet super cepat. Tapi jarang ada yang membahas satu hal penting di balik semua itu: listrik.
Data center, gedung tempat ribuan server bekerja tanpa henti yang ternyata mengonsumsi listrik dalam jumlah yang tidak kecil. Bahkan, dalam beberapa kasus, skalanya bisa mendekati konsumsi satu kota.
Lalu, seberapa besar sebenarnya?
Konsumsi listrik Data Center di Indonesia
Di Indonesia, PT DCI Indonesia Tbk memiliki kapasitas operasional sekitar 84 MW. Artinya, dalam satu waktu fasilitas ini bisa menarik daya listrik sebesar 84 megawatt secara simultan.
Sebagai perbandingan , beban puncak Yogyakarta berada di kisaran 600โ650 MW.
Dengan kata lain Satu kampus data center besar di Indonesia setara sekitar 13โ14% dari beban puncak Kota Yogyakarta.
Itu bukan angka kecil untuk satu fasilitas tunggal yang berdiri di satu lokasi.
Di Luar Negeri Lebih Besar Lagi
Di Amerika Serikat, operator seperti Switch membangun kampus raksasa bernama The Citadel Campus di Nevada. Fasilitas ini memiliki kapasitas desain hingga 650 megawatt (MW).
Jika kapasitas sebesar itu berjalan penuh sepanjang tahun, konsumsi listriknya bisa mencapai sekitar 5.694 GWh per tahun.
Angka ini jauh melampaui skala data center di Indonesia. Sebagai perbandingan, konsumsi tersebut bisa setara atau bahkan sedikit lebih tinggi dari beban puncak Kota Yogyakarta atau beberapa kota di Indonesia.
Artinya, di level global, beberapa kampus data center memang sudah benar-benar berada di skala โkotaโ bukan lagi sekadar fasilitas teknologi.
Kenapa Bisa Sebesar Itu?
Jawabannya sederhana: data center tidak pernah mati.
Server bekerja 24 jam sehari. Sistem pendingin selalu aktif. Infrastruktur cadangan selalu siaga agar layanan tidak pernah berhenti.
Berbeda dengan rumah atau kantor yang listriknya turun saat malam, data center justru stabil dan konstan.
Apalagi sekarang, dengan tren AI, kebutuhan listrik makin besar karena server yang dipakai jauh lebih bertenaga.
Tantangan ke Depan
Pertumbuhan data center berarti pertumbuhan kebutuhan listrik. Di Indonesia, pasokan ini sebagian besar berasal dari PLN.
Artinya, perkembangan ekonomi digital tidak bisa dipisahkan dari kesiapan sistem kelistrikan nasional.
Jika satu fasilitas saja bisa mendekati atau bahkan lebih besar dari konsumsi kota kota besar di Indonesia, bayangkan ketika jumlahnya bertambah dalam beberapa tahun ke depan.
Jadi, Seberapa Besar?
Jawaban singkatnya: besar sekali.
Satu data center besar bisa setara listrik puluhan ribu rumah. Di beberapa kota, skalanya bisa mendekati konsumsi separuh kota atau bahkan lebih besar dari konsumsi suatu kota.
Di era digital, gedung-gedung server ini bukan lagi sekadar infrastruktur tersembunyi. Mereka sudah menjadi โkota kecilโ dari sisi konsumsi energi.